Dalam marketing konsumen adalah pemegang kekuasaan tertinggi, karena ditangan konsumenlah keputusan pembelian dilakukan. Suatu produk dapat laku atau tidak berada ditangan konsumen sebagai pengguna. Karena itu dikenal ungkapan pelanggan ialah raja, karena memang raja-raja itulah yang memegang kekuasaan.
Dalam demokrasi, rakyat memegang kekuasaan karena di tangannyalah presiden dan wakil-wakil mereka diputuskan.
Dalam marketing konsumen selalu mengambil keputusan tiap hari yang yang berpengaruh terhadap ekonomi perusahaan dan pada akhirnya suatu negara. Dalam demokrasi di negara ini, rakyat hanya punya satu kesempatan dalam 5 tahun untuk memilih presiden dan wakil-wakilnya. Jadi dalam market, kekuasaan konsumen tidak terwakilkan, sedangkan dalam demokrasi kekuasaan rakyat dilaksanakan oleh wakil-wakilnya.
Karena kekuasaan konsumen tidak diwakilkan, perusahaan harus selalu ‘merayu’ dan ‘membujuk’ konsumen untuk membeli jasa atau produk-produknya. sedangkan karena dilakukan 5 tahun sekali maka partai hanya perlu ‘merayu’ dan ‘membujuk’ rakyat 5 tahun sekali.
Pertanyaannya apa bisa demokrasi dilakukan seperti pada market?
Menurut saya susah, karena dalam marketing, konsumen mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri dan dengan itu menyatakan kekuasaannya, jadi bottom-up. sedangkan dalam demokrasi/pemerintahan, pada dasarnya adalah top-down dimana keputusan untuk rakyat kebanyakan dilakukan dipucuk pimpinan dan dilaksanakan kebawah.
Jadi menurut saya marketing dan demokrasi itu pada dasarnya ialah proses penyaluran kekuasaan masyarakat so apa bisa di katakan marketing ~ demokrasi? paling tidak dalam hal kekuasaan ini?







