Alfin Tofler mejelaskan perkembangan dunia yang terdiri dari 3 gelombang, yaitu gelombang pertanian dimana alat produksi yang vital ialah tanah, karena dengan tanahlah kita berproduksi dan berpenghasilan. Dalam masa ini tuan tanah merupakan pihak yang berkuasa siapa yang memiliki tanah yang luas dialah yang berkuasa, masa-masa Feodalisme. Nggak heran kalau banyak penjajahan, mereka mencari tanah tanah baru untuk ditanam dan berproduksi.
Kemudian datang gelombang industri. disini proses produksi di hasilkan melalui pekerjaan-pekerjaan manufacture atau pabrik. Dalam masa ini pemilik pabrik, negara-negara yang memiliki teknologi manufacture merajai dunia. Masa industri ini ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan dunia dengan teknologi baru dan munculnya kelas-kelas pekerja dan pemilik modal. Standardisasi berkembang mulai dari pekerjaan, pendidikan, bahkan sampai arsitektur modern .
Berikutnya datang gelombang ketiga yang kerap disebut gelombang post industrialis atau abad informasi. Dalam masa ini pengetahuan atau knowledge adalah senjata terbesar. mereka yang memiliki informasi dan pengetahuan dapat memimpin didepan.
Mencermati perkembangan terakhir:
Budaya Industri yang ditambahkan dengan value informasi telah membawa kita ke masa kelimpahan dimana mereka yang berpenghasilan tinggi dan yang rendah dapat menggunakan barang yang relatif sama contoh kaum berpendapatan tengah dapat membeli baju dengan model yang sama dengan yang dihasilkan butik-butik mahal. dst.
Proses produksi dan kompetisi bersaing juga berkembang dari theory classic Porter mengenai strategi bersaing differensiasi, cost ledarship dan focus, menjadi best producer, mass customization, luxury.
Dan perkembangan terakhir dari membaca koran-koran, kekuatan-kekuatan dunia mulai bergeser. geopolitik bergeser saat ini. kemajuan teknologi tidak dapat memungkiri bahwa pada akhirnya natural resources juga dapat berbicara banyak.
Negara negara pemilik sumber daya alam saat ini mendapat angin segar. Negara seperti Venezuela, Bolivia bisa bicara keras tentang Amerika dan berdiri dengan sombong karena mereka memiliki minyak. Timur tengah kebagian kebanjiran dana dari naiknya harga minyak ke level yang sangat tinggi ($90-an) saat ini.
Tidak hanya itu, harga komoditas perkebunan seperti minyak kelapa sawit, coklat, dll terus bergerak meningkat seiring dengan pertumbuhan dunia.
Disisi lain Issue Global Warming memberikan kekuatan bagi negara-negara pemilik huta-hutan terluas seperti Brazil dan Indonesia. sehingga memiliki posisi penting di dunia.
Nah didunia seperti ini siapa yang akan menentukan arah dunia menetapkan dasar-dasar dunia kedepan nantinya? Mereka yang memiliki teknologi vs mereka yang memiliki natural resource?








kalo menurutku,
ke depan, yg akan menentukan adalah yang memiliki competitive advantage paling tinggi karena memiliki posisi tawar paling baik.
ingat, competitive advantage adalah keunggulan yang tidak dimiliki pesaing dan susah utk ditiru.
teknologi mesin tanpa sumber energi fossil sdh ada, tapi tidak bisa men-deliver performance sebaik mesin dgn sumber energi fossil (juga harganya).
juga letak indonesia yg bergelimang cahaya matahari (juga brazil), membuat keduanya berpotensi menjadi raksasa industri berbasis natural resource (agro, timber, tanaman obat, mining, oil&gas, dll).
dgn “keusangan sang waktu” dimana laju amortisasi dari pengetahuan amat kencang dan bertambah datarnya dunia dimana apapun dapat dibeli (bahkan kompetensi), natural resource menjadi kunci.
Peta persaingan pun berubah menjadi siapa yg paling pintar utk memanfaatkan natural resource nya dgn efisien & berkelanjutan.
bagaimana menurut mu…?
ini gue…
kan gue tanya,
“bagaimana menurut mu…?”
lah,
kok blm dijawab…?
Posting yang menarik dan informatif. Menurut saya natural resource semakin berperan, tapi kompetensi masih jauh lebih penting. Contoh sederhana adalah Nestle. Perusahaan global ini tetap tumbuh walaupun di negaranya kopi tidak bisa tumbuh (!). Sampai saat ini pun Nescafe masih menjadi brand kopi yang mengglobal dan menggurita. Demikian pula kalau bicara minyak, bagaimanapun sampai saat ini faktanya hanya segelintir oil companies yang memegang industri minyak (sifatnya oligopolistik), sebutlah ChevronTexaco, Shell, Exxon, dsb. Padahal negara-negara Arab memiliki gudang minyak. Apakah semudah itu bagi negara Arab memainkan kekuatan politiknya untuk tidak mengizinkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika dan Eropa untuk tidak beroperasi, misalnya. Walaupun Venezuela bisa bicara keras, namun Amerika tetap memegang pasar dunia, di mana 25% produk dan jasa dikonsumsi oleh Amerika. Power masih ada di tangan mereka yang memiliki kompetensi yang tinggi. Natural resources merupakan raw material yang penting, namun sebuah bangsa atau korporsai tetap memerlukan kompetensi level tinggi untuk memiliki atau mengendalikan natural resources.